Motto Persma Unesa

Tampilkan postingan dengan label materi diklat dasar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label materi diklat dasar. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Juli 2010

PROSES KERJA JURNALISTIK

  1. Rapat Redaksi
  2. Repotase
  3. Penulisan Berita
  4. EDITING: proses memeriksa kembali naskah/tulisan untuk menyempurnakan tulisan, yang menyangkut ejaan, gaya bahasa, kelengkapan data, efektivitas kalimat, dan sebagainya. Pelaku disebut editor atau redaktur
  5. Setting dan Lay Out: proses pemilihan Setting merupakan proses pengetikan naskah yang menyangkut pemilihan jenis dan ukuran huruf. Sedangkan layout merupakan penanganan tata letak dan penampilan fisik penerbitan secara umum. Setting dan layout merupakan tahap akhir dari proses kerja jurnalistik. Setelah proses ini selesai, naskah dibawa ke percetakan untuk dicetak sesuai oplah yang ditentukan.

Sekilas Tentang Fotografi


Kata photography berasal dari kata photo yang berarti cahaya dan graph yang berarti gambar. Jadi photography bisa diartikan menggambar/melukis dengan cahaya.

Jenis-jenis kamera
Kamera film, sekarang juga disebut dengan kamera analog oleh beberapa orang.
Format film
Sebelum kita melangkah ke jenis-jenis kamera film ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu berbagai macam format/ukuran film. 
1. APS, Advanced Photography System. Format kecil dengan ukuran film 16x24mm, dikemas dalam cartridge. Meski format ini tergolong baru, namun tidak populer. Toko yang menjual film jenis ini susah dicari di Indonesia.
2. Format 135. Dikenal juga dengan film 35mm. Mempunyai ukuran 24x36mm, dikemas dalam bentuk cartridge berisi 20 atau 36 frame. Format ini adalah format yang paling populer, banyak kita temui di sekitar kita.
3. Medium format
4. Large format

Materi Diklat Dasar

PENDAHULUAN

Kemajuan teknologi komunikasi selama 50 tahun terakhir, telah membawa dampak perubahan yang luarbiasa terhadap kegiatan jurnalistik di dunia. Koran yang terbit di Paris atau New York, hari ini juga edisi Asianya bisa dibaca di Jakarta seperti halnya kita membaca Kompas. Duapuluh tahun yang lalu, koran Jakarta baru bisa dibaca di Jawa Tengah atau Jawa Timur setelah pukul 12.00 tengah hari. Selain karena faktor teknologi, waktu itu juga ada pembatasan (regulasi) dari Departemen Penerangan. Namun sekarang secara serentak, Kompas dicetak di Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Makasar, Banjarmasin, Palembang dan Medan. Hingga koran Jakarta itu bisa dibaca di Lubuk Pakam, Plei Hari atau Maros, bersamaan dengan saat orang Menteng membacanya. Itu semua bisa terjadi berkat adanya teknologi komunikasi jarak jauh melalui satelit. Hingga pengiriman halaman dengan huruf dan gambar siap cetak itu bisa dilakukan dalam hitungan detik dari satu tempat ke tempat lainnya.
Teknologi digital dengan komunikasi melalui satelit, saat ini juga memungkinkan seorang jurnalis yang berada di tengah hutan belantara Zaire, Brasil atau Papua bisa memotret perang, binatang buas atau pemandangan alam, dan saat itu juga dengan bantuan Notebook, Modem dan HP, gambar-ambar itu bisa sampai ke Jakarta, Tokyo, Paris atau New York. Dan saat itu juga berita berikut fotonya sudah bisa dinikmati konsumen di seluruh dunia. Baik melalui media cetak, televisi, internet maupun SMS.
Namun kemajuan teknologi yang demikian pesatnya itu, di lain pihak juga telah mengakibatkan pendangkalan berpikir di kalangan masyarakat, yang pada saat bersamaan juga menimpa para jurnalis. Dengan adanya media televisi dan internet, maka alokasi waktu dari tiap individu untuk membaca media cetak menjadi menyusut tajam. Kalau tahun 1980an orang masih tahan untuk duduk membaca koran atau majalah selama lebih dari satu jam per hari, maka tahun 2000an alokasi waktu itu rata-rata kurang dari 0,5 jam. Tuntutan untuk serba cepat dan serba instan, pada akhirnya juga telah menumpulkan daya pikir sebagian besar jurnalis kita. Sebab untuk bisa menghasilkan karya jurnalistik yang baik, tetap diperlukan waktu dan suasana kontemplatif yang cukup.
* * *