Motto Persma Unesa

Rabu, 28 Juli 2010

PENGANTAR METODOLOGI POLLING

Oleh : Nhuda Effendi
Tak heran jika polls itu disebut bagian dari demokrasi yang tak tampak. Jelasnya, dalam pandangan Marsh, hasil polls itu bukan merupakan hasil final yang musti diikuti. Melainkan seseorang harus melihat dari sisi apa, lantas validitas data dan sampel yang digunakan dalam polls tersebut. Dari sana usaha memahami hasil polls yang benar-benar akurat dan bisa dipertanggungjawabkan, baik secara empirik maupun akademik, dapat diketahui.

Polling
Jika dalam dunia jurnalistik ada yang dinamakan News Planning, News Gathering, News Procession, News Presentation serta Evaluation. Maka begitu pula halnya dengan polls. Dalam riset polls bisa didapati alur proyek yang tidak jauh berbeda dengan metode pembuatan news. Di sana ada Research Design, Data Collecting, Data Entry, Presentation and Publication serta Evaluation.
Dalam Research Design sebuah tim dituntut untuk memberikan masukan permasalahan yang ada untuk dilakukan polls. Program dan rencana tak boleh sambil lalu. Namun memerlukan satu design yang sedemikian rupa sehingga menjadi satu bukti dan fakta bahwa suara yang muncul benar-benar akurat. Memang tidak mudah. Namun tuntutan yang dihasilkan mampu mempengaruhi sebuah kebijakan yang dirasa sangat tidak relevan bagi perkembangan suatu masyarakat.
Kemudian Data Collecting yang merupakan alur kedua adalah mencoba mengklasifikasikan mana dan apa saja yang hendak menjadi kebutuhan dalam pembuatan polls tersebut. Ini melingkupi dimensi yang sangat luas. Termasuk juga sampel yang hendak diambil. Kategori apa saja yang memenuhi kriteria sehingga didapatkan sebuah hasil yang proporsional, dapat mewakili masyarakat kebanyakan.
Data Entry adalah memasukkan hasil data yang sudah disebar dalam angket maupun melalui telepolling. Satu hal yang perlu dipahami adalah jangan sampai terjadi suatu kesalahan dalam memasukkan data. Akibatnya sangat fatal. Kesalahan satu mengakibatkan hasil polls bisa jadi tidak akurat dan tidak relevan. Sebab dalam data entry pada akhirnya bisa diketahui tingkat kesalahan dari hasil polls yang didapat. Meski jarang terjadi namun kesalahan awal dari riset pemula adalah dalam hal pemasukan data tersebut.
Presentation and Publication, adalah hal mutlak dalam membuat satu opini publik. Hasil polls yang diperoleh disajikan dalam bentuk berita yang menarik, sehingga para pembaca tidak terlalu pusing dengan angka-angka yang mungkin memerlukan penjabaran cukup rumit. Dengan adanya penyajian data dalam bentuk news, yang sering dilakukan oleh media dan koran sekarang ini, menjadikan polls sebagai sarana uji validitas dan uji opini, apa yang tersebar dan beredar dalam masyarakat. Atau seti-daknya bisa diketahui perkembangan fakta yang terjadi di masyarakat.
Sedangkan evaluation memungkinkan untuk meminimalkan kesalahan sajian data. Bisa dalam bentuk tulisan maupun dalam bentuk nominal yang akan disajikan dalam news. Lebih tepatnya evaluasi ini dibuat sebelum sajian data yang sudah jadi disajikan pada pembaca.
Sebenarnya dalam sajian data tersebut yang paling banyak mempengaruhi validitas maupun keakuratan data adalah sampel. Pada beberapa hal sampel berfungsi mempengaruhi pembaca akan apa yang hendak diinginkan oleh koresponden. Ini biasanya terjadi pada polls perusahaan dalam mengenalkan produknya. Dan menggiring pembaca memberikan reaksi yang sama pada soal kebijakan, khususnya yang menyangkut kebijakan publik.

Metode Sampling
Metode ini merupakan cara ilmiah untuk mencari berapa banyak responden yang harus diketahui pendapatnya untuk mempengaruhi dan mengajak pembaca memberikan respon yang sama. Dalam hal ini, berdasar sifat kemungkinannya, metode ini terbagi menjadi dua.

Metode Sampling

            Probability Sampling                            Non Probability Sampling
            Simple Random Sampling                    Quota Sampling
            Sistematic Selection                             Purposive Sampling
            Stratified Sampling                              Accidental Sampling
            Cluster Sampling
            Multi Stage Random Sampling

Pada kesempatan ini, mungkin akan lebih baik kita membicarakan metode polls yang sering digunakan oleh banyak media dalam melakukan polling untuk menjaring pendapat dalam masyarakat. Dalam hal ini ada dua, yaitu Simple Random Sampling (SRS) dan Multi Stage Random Sampling (MSRS).
SRS adalah metode yang paling sederhana yang sering dilakukan oleh banyak media mahasiswa. Pelaksanaan metode ini mengandaikan sebuah tim yang juga kekurangan SDM, namun memerlukan banyak responden dalam jajak pendapat. Misalnya saja dalam sebuah populasi terdapat 1000 pemuda. Sedangkan dalam polls hanya diinginkan sebanyak 100. Maka n yang diambil sebagai responden hanya 100 orang itu saja. Tentu metode ini masih bisa dipertanyakan mengenai keakuratan data serta kualitas proporsionalnya. Sebab, apakah bisa membuktikan bahwa dari 100 pemuda tersebut memang sudah memenuhi kualitas keinginan dari 1000 pemuda dalam populasi tersebut?
Namun dari segi teknis pelaksanaan hal tersebut bisa disiasati dengan sistem acak,

Tak heran jika polls itu disebut bagian dari demokrasi yang tak tampak. Jelasnya, dalam pandangan Marsh, hasil polls itu bukan merupakan hasil final yang musti diikuti. Melainkan seseorang harus melihat dari sisi apa, lantas validitas data dan sampel yang digunakan dalam polls tersebut. Dari sana usaha memahami hasil polls yang benar-benar akurat dan bisa dipertanggungjawabkan, baik secara empirik maupun akademik, dapat diketahui.

Polling
Jika dalam dunia jurnalistik ada yang dinamakan News Planning, News Gathering, News Procession, News Presentation serta Evaluation. Maka begitu pula halnya dengan polls. Dalam riset polls bisa didapati alur proyek yang tidak jauh berbeda dengan metode pembuatan news. Di sana ada Research Design, Data Collecting, Data Entry, Presentation and Publication serta Evaluation.
Dalam Research Design sebuah tim dituntut untuk memberikan masukan permasalahan yang ada untuk dilakukan polls. Program dan rencana tak boleh sambil lalu. Namun memerlukan satu design yang sedemikian rupa sehingga menjadi satu bukti dan fakta bahwa suara yang muncul benar-benar akurat. Memang tidak mudah. Namun tuntutan yang dihasilkan mampu mempengaruhi sebuah kebijakan yang dirasa sangat tidak relevan bagi perkembangan suatu masyarakat.
Kemudian Data Collecting yang merupakan alur kedua adalah mencoba mengklasifikasikan mana dan apa saja yang hendak menjadi kebutuhan dalam pembuatan polls tersebut. Ini melingkupi dimensi yang sangat luas. Termasuk juga sampel yang hendak diambil. Kategori apa saja yang memenuhi kriteria sehingga didapatkan sebuah hasil yang proporsional, dapat mewakili masyarakat kebanyakan.
Data Entry adalah memasukkan hasil data yang sudah disebar dalam angket maupun melalui telepolling. Satu hal yang perlu dipahami adalah jangan sampai terjadi suatu kesalahan dalam memasukkan data. Akibatnya sangat fatal. Kesalahan satu mengakibatkan hasil polls bisa jadi tidak akurat dan tidak relevan. Sebab dalam data entry pada akhirnya bisa diketahui tingkat kesalahan dari hasil polls yang didapat. Meski jarang terjadi namun kesalahan awal dari riset pemula adalah dalam hal pemasukan data tersebut.
Presentation and Publication, adalah hal mutlak dalam membuat satu opini publik. Hasil polls yang diperoleh disajikan dalam bentuk berita yang menarik, sehingga para pembaca tidak terlalu pusing dengan angka-angka yang mungkin memerlukan penjabaran cukup rumit. Dengan adanya penyajian data dalam bentuk news, yang sering dilakukan oleh media dan koran sekarang ini, menjadikan polls sebagai sarana uji validitas dan uji opini, apa yang tersebar dan beredar dalam masyarakat. Atau seti-daknya bisa diketahui perkembangan fakta yang terjadi di masyarakat.
Sedangkan evaluation memungkinkan untuk meminimalkan kesalahan sajian data. Bisa dalam bentuk tulisan maupun dalam bentuk nominal yang akan disajikan dalam news. Lebih tepatnya evaluasi ini dibuat sebelum sajian data yang sudah jadi disajikan pada pembaca.
Sebenarnya dalam sajian data tersebut yang paling banyak mempengaruhi validitas maupun keakuratan data adalah sampel. Pada beberapa hal sampel berfungsi mempengaruhi pembaca akan apa yang hendak diinginkan oleh koresponden. Ini biasanya terjadi pada polls perusahaan dalam mengenalkan produknya. Dan menggiring pembaca memberikan reaksi yang sama pada soal kebijakan, khususnya yang menyangkut kebijakan publik.

Metode Sampling
Metode ini merupakan cara ilmiah untuk mencari berapa banyak responden yang harus diketahui pendapatnya untuk mempengaruhi dan mengajak pembaca memberikan respon yang sama. Dalam hal ini, berdasar sifat kemungkinannya, metode ini terbagi menjadi dua.

Metode Sampling

            Probability Sampling                            Non Probability Sampling
            Simple Random Sampling                    Quota Sampling
            Sistematic Selection                             Purposive Sampling
            Stratified Sampling                              Accidental Sampling
            Cluster Sampling
            Multi Stage Random Sampling

Pada kesempatan ini, mungkin akan lebih baik kita membicarakan metode polls yang sering digunakan oleh banyak media dalam melakukan polling untuk menjaring pendapat dalam masyarakat. Dalam hal ini ada dua, yaitu Simple Random Sampling (SRS) dan Multi Stage Random Sampling (MSRS).
SRS adalah metode yang paling sederhana yang sering dilakukan oleh banyak media mahasiswa. Pelaksanaan metode ini mengandaikan sebuah tim yang juga kekurangan SDM, namun memerlukan banyak responden dalam jajak pendapat. Misalnya saja dalam sebuah populasi terdapat 1000 pemuda. Sedangkan dalam polls hanya diinginkan sebanyak 100. Maka n yang diambil sebagai responden hanya 100 orang itu saja. Tentu metode ini masih bisa dipertanyakan mengenai keakuratan data serta kualitas proporsionalnya. Sebab, apakah bisa membuktikan bahwa dari 100 pemuda tersebut memang sudah memenuhi kualitas keinginan dari 1000 pemuda dalam populasi tersebut?
Namun dari segi teknis pelaksanaan hal tersebut bisa disiasati dengan sistem acak,
random, yang telah disebutkan di atas. Alhasil, untuk mendapatkan tingkat kesalahan terkecil maka dari setiap 10 orang terwakili suara satu orang.
Sedangkan metode MSRS memerlukan tenaga yang banyak sekaligus perencanaan yang matang. Inilah yang biasa dilakukan oleh media sekaliber Kompas maupun Tempo melalui telepolling, atau lembaga penelitian LP3ES. Metode ini menggunakan lebih dari dua kombinasi teknik sampling karena sering adanya kesulitan dalam listing secara langsung. Sehingga jalan yang dipilih adalah pengambilan sampel bertahap.
Misal. Sebuah lembaga akan mengambil pendapat dari 200 keluarga di Propinsi Yogyakarta. Maka tahapan yang harus dilalui oleh lembaga tersebut adalah;
1. Membagi propinsi Yogyakarta ke dalam 4 wilayah
2. Dalam setiap wilayah membuat list (daftar) kelurahan yang ada
3. Memilih secara random kelurahan yang ada
4. Membuat list setiap keluarga dari kelurahan yang terpilih
5. Memilih secara random (proporsional) 200 keluarga dari kelurahan tersebut
Secara otomatis, hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan kuesioner adalah ditujukan kepada siapa pertanyaan dalam setiap kuesioner tersebut. Artinya hendaknya lembaga yang menyelenggarakan polls mengetahui kondisi sosial dari setiap responden. Sehingga tidak akan memperlebar jurang bias hasil polls yang diperoleh. Maka dalam sebuah proyek polls harus dilakukan pemetaan masalah terlebih dahulu. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain;
1. Rumusan Masalah
       a. Objektif (faktual)
       b. Batasan cakupan masalah   
       c. Dapat dipahami oleh setiap orang   
       d. Rumusan dalam kalimat yang jelas dan sederhana
2. Hal yang harus dihindari
       a. Menghindarkan dari “sebab tak langsung” dalam pernyataan                 masalah
       b.  Menghindarkan solusi tak langsung
Kemudian dalam menganalisa hasil polls, khususnya polls yang harus dipublikasikan dalam bentuk berita dalam majalah maupun koran, adalah sebisa meungkin menyajikan fakta dan data lebih menarik. Sebab pembaca mungkin lebih tertarik dengan penyajian yang ringan dan berbobot, dan mungkin sekali-kali jenaka, daripada harus menghadapi sederetan nominal yang rumit dimengerti. Maka yang harus diperhatikan dalam penyajian analisisnya antara lain;
a. Mengidentifikasi sebab-sebab potensial
b. Menentukan sebab-sebab yang paling memungkinkan
c. Mengidentifikasi akar penyebab yang sesungguhnya
Identifikasi ini pun mempunyai hubungan yang sangat signifikan dengan analisis sosial yang mungkin kawan-kawan dapatkan saat hari pertama. Namun yang jelas, kami ingin menyampaikan bahwa suatu analisis masalah tak akan berhasil jika hanya mengedepankan faktor yang mempengaruhi saja. Sedangkan faktor dominan, meski tidak berpengaruh atau sangat kecil pengaruhnya, hanya menjadi pelengkap data saja. Dan juga pernyataan dari setiap kuesioner sangat menunjang bagi keberhasilan suatu team work resesarch yang akan kalian lakukan.
Dan Plato pernah mengatakan “Jawaban yang benar sangat ditentukan oleh pertanyaan yang benar.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar