Motto Persma Unesa

Jumat, 16 Juli 2010

NGE-CAMP DI STASIUN WONOKROMO


Deretan warung remang-remang dan pedagang kaki lima yang terletak di sebelah timur stasiun wonokromo, Surabaya, nampak tidak ada yang menarik dilihat dari kejauhan. Namun kita akan menemukan pemandangan yang berbeda jika mendekatinya dengan menyeberang lintasan kreta menuju arah timur. Disana penuh dengan wanita-wanita berbusana nyentrik berada di sekitar warung kaki lima. Di belakang warung-warung ada deretan tenda, masyarakat menyebutnya Camp. saat Persma mendekat mereka langsung menawari nyantai di tenda, istilah “nyantai” mereka gunakan untuk mengajak pelanggan masuk kedalam tenda dan melakukan seks.
Melati (nama samaran) mengaku sudah lama bekerja di camp, yaitu sekitar tahun 1998. Sebenarnya keberadaan camp sudah sejak lama dengan keadaan dan pelaku yang silih berganti. Maraknya ketika dekade Sembilan puluan, para PSK bisa mencapai satu truck dengan pelanggan yang tidak sedikit. “ disini dulu sangat rame dek, sekarang sudah mulai sepi dari pelanggan” ujar melati. Saat dimintai keterangan melati terus mengelak jika ditanya tetang perihal yang bersifat sangat pribadi. Namun dia mau memberi penjelasan mengenai Camp yang ada di stasiun wonokromo.
Mawar (nama samaran) juga mengaku sudah lama bekerja menjadi wanita malam di Camp. Sejak tahun 2002 dia keluar dari doli dan berpindah ke Camp “ awale aku kerjo nang doly, tapi aku pas pindah neng kene iku tahun 2004, lek penaan iyo penaan nang doly. Ndek kono iku ruame” jelas mawar saat bercerita kepada Persma. Menurut mawar ketika kerja di doly hampir setiap hari pasti ada pelanggan dengan pengahasilan sekitar 100 ribu per-hari. Tidak seperti di camp yang kadang satu hari tidak mendapatkan sepeser uang. Pendapatan yang sedikit di camp karena mereka kerjanya hanya pada malah hari yakni setelah maghrib. Tidak seperti halnya di wisma yang setiap saat harus siap ketika ada pelanggan.
Awalnya, saat keluar dari doly melati hanya bekerja di warung yang penghasilannya tidak begitu besar. Namun ketika mendengar kabar bahwa di stasiun wonokromo ada tempat lokalisasi dia langsung menuju kesana untuk kembali bekerja sebagai PSK. “ aku kembali kesini karna kebutuhan ekonomi dan kedua ya pengen aja bekerja kayak gini” jawab mawar polos ketika ditanya mengenai kembalinya dia bekerja sebagai PSK.
Tarip rata-rata 30 ribu untuk sekali maen di dalam tenda. Tergantung bagaimana transaksi antara pelanggan dan PSK. Mawar wanita asal Kediri ini mengaku memasang tarip 30 ribu untuk sekali maen tapi itupun tergantung transaksi antara dia dan pelanggan. “ kalau aku wes 30, yo bagaimana enaknya” ujarnya sambil tertawa ketika ditanya tarip maen.
Menurut kesaksian sumiati, wanita tua asal tulungagung, pemulung di area stasiun wonokromo, mayoritas para PSK berasal dari luar Surabaya, mereka adalah para wanita perantau yang mencari penghasilan melalui esek-esek dengan tarip murah. Begitu juga para hidung belang yang mendatangi camp, kebanyakan dari mereka adalah orang yang mempunyai ekonomi menengah kebawah, maklum jika sampai saat ini camp masih tetap di kunjungi.
Jumlah para PSK yang ada di camp tidak bisa ditentukan karena PSK yang datang ke Camp tidak menentu. Apalagi status lokalisasi tersebut masih illegal, tidak seperti halnya di doly yang setiap wisma mempunyai pekerja tetap dan wisma tersebut sudah punya status legal. Sejak tahun 2007 Camp tidak begitu rame dikunjungi pelanggan, padahal akhir-akhir ini tidak ada penggrebekan dari satpol PP. dulu ketika Camp masih banyak di kunjungi pelanggan penggrebekan sering terjadi oleh satpol PP. hal ini dirasakan oleh bu misna penjaga warung remang. “ dulu disni sering ada penggrebekan, namun sekarang sudah tidak ada lagi, kita punya orang” terang bu misna. Di kalangan kepolisian mereka sudah mempunyai “orang” yang bisa menjamin keamanannya dari penggerebekan.
Tenda tersebut didirikan mulai pukul 17.00 s/d 05.00 WIB. Keberadaan lokalisasi ini bukan tidak diketahui oleh masyarakat dan pihak kepolisisan. Penggrebakan sudah ada, namun rupanya Camp sampai saat ini masih tetap eksis, Menurut, keterangan narasumber hal ini dibiarkan karena ada semacam uang pelicin dari pihak pemilik tenda . Begitu juga masyarakatnya mereka menganggap hal itu sudah menjadi hal yang biasa.
Perbedaan antara lokalisasi gang Dolly dan Camp*
DOLLY
CAMP
Harga
Kisaran 100rb-150rb perjam
Kisaran 30rb
Kualitas wanita
Kebanyakan berumur 25-27 tahun an,
Yang berumur 30 tahun-an sudah jarang. Dan wanitanya tampak lebih fresh dan seksi
Kebanyakan sudah tua atau berkepala 3. Kondisi tubuh : banyak yang gendut dan kurang menarik
Gaya permainan di ranjang
Wanita mau membuka baju seluruhnya disaat melakukan hubungan intim, dan bebas nglakuin apa saja terserah konsumen, yang penting satu jam (jika boking Cuma 1 jam saja)
Wanita tidak mau membuka baju semuanya, dan konsumen tidak leluasa. Ada batasannya dari pihak wanita
Bisa di ajak keluar?
Bisa di ajak keluar, kalau tidak mau melakukan hubungan intim di dolly. Asalkan konsumen harus membayar sewa kamar, jika melakukan hubungan intim di luar dolly.
Wanita tidak bisa di ajak keluar, mereka inginya di stasiun aja. Kalau tidak mau ya sudah
*data diambil dari salah satu laki-laki yang mengaku sudah menunjungi gang dolly dan camp
SUARA STASIUN
DARI TEMPAT PIJET KE ESEK-ESEK
Keberadaan Camp bukan menjadi rahasia umum lagi. Tentunya pihak stasiun sedikit banyak mengetahui tentang Camp. Bagaimana pendapat petugas stasiun kereta api wonokromo sebagai perangkat yang paling dekat dengan Camp. Berikut cuplikan wawancara dengan Pak Tulus, petugas stasiun.
Sebenarnya apa tempat itu? Dan kenapa kok bias berada di stasiun?
“tempat itu adalah gubug yang biasa di gunakan esek-esek, sebenernya dulu katanya adalah tempat pijet yang untuk penumpang stasiun kalau capek, tapi lama kelamaan jadi pijet plus-plus. Tempat itu sudah lama, saya kurang tahu kapan mulainya”
Apa tidak pernah ada penggusuran atau larangan dari pihak stasiun untuk menertibkan area gubug tersebut?
“dulu pernah kita tertibkan dengan satpam-satpam yang ada distasiun untuk membersihkan tempat tersebut, tapi agak berselang lama kembali lagi. Sering kita tertibkan, tapi tetap saja tidak bisa di hilangkan. Ya udah kita biarkan, asalkan tidak mengganggu aktivitas di stasiun ini”
Menurut anda, selain dari pihak stasiun sendiri yang melakukan penggusuran gubug tersebut, apakah juga ada penggusuran atau razia yang dilakukan oleh pihak lain?
“setahu saya, dulu pernah ada razia yang dilakukan oleh polisi setempat, terakhir kali sekitar setahun yang lalu . polisi itu merazia para wanita yang katanya meresahkan warga sekitar kalau setiap malam dan juga merazia orang-orang yang membawa narkoba, katanya ada yang melapor kalau tempat itu sering digunakan transaksi narkoba”
Apa ada pengaruh dari pihak stasiun dengan adanya gubug tersebut ?
“sebenernya tidak ada sih, jumlah penumpang tetap tidak berkurang sedikitpun meski ada nya gubug tersebut, hal yang kami pentingkan disini adalah memberikan kenyamanan untuk para penumpang agar terhindar dari tindak kejahatan. Dulu banyak sekali preman-preman yang mangkal di sini ( distasiun ), lalu kita bersihkan oleh satpam-satpam stasiun. Dan Alhamdulillah sekarang sudah terlihat, kenyamanan penumpang saat ini bisa dirasakan. Jadi adanya gubug tersebut tidak mempengaruhi kenyaman penumpang distasiun”
Dengan adanya gubug tersebut apakah tidak mengganggu jalanya kereta api, banyak orang-orang melintas di sekitar rel di saat gubug itu ada?
“kalau malam kereta api yang melintas lebih sedikit jika dibandingkan siang hari. Lagi pula kereta api yang melintas kebanyakan berada di jalur 1 dan 2, sedangkan gubugnya berada di samping jalur 4 ujung sendiri. Ya sampai sekarang alhamdullillah tidak ada gangguan atau bahaya dari lewatnya kereta api terhadap orang-orang yang melintas di rel itu.”
Liputan dari: ADI, AISYIA, ANIS, MOH. ALFATHOLLAH, MUANIFAH, SANTI, WELO.

1 komentar: